November 14, 2017

The Beautiful Soul

If any one of you wants to be my follower, you must turn from your selfish ways, take up your cross, and follow me. If you try to hang on to your life, you will lose it. But if you give up your life for my sake, you will safe it. And what do you benefit if you gain the whole world but lose your own soul? Is anything worth more than your soul?(Matthew 16:24-26, NLT)


Kita sebagai wanita biasanya senang tampil cantik dengan versi diri kita sendiri. Kita pun juga pasti sudah tidak asing dengan kata-kata bahwa cantik itu inside-out (cantik luar dalam). Nah kalau memakai definisi cantik itu di dalam, aku merasa belakangan ini jiwaku sedang tidak dalam kondisi cantik. I feel there is something wrong with my soul these days. Pikiranku lebih banyak yang negatif daripada positifnya, kadang bisa emosian, dsb. Jadi, aku memutuskan untuk mengecek kesehatan jiwaku (seperti ibu dokter ya hehe..) Kesimpulan yang kutemukan adalah aku gagal menjaga jiwaku dan banyak distracted dengan hal-hal lain selain mempertahankan relationship aku secara pribadi dengan Tuhan sendiri. Ketika aku tidak menjaga koneksi yang baik dengan Tuhan, jiwaku bermasalah.
Apakah teman-teman pernah mengalami hal yang serupa? Kita dapat dengan mudah terlena dengan aktivitas kita, mengejar mimpi, bergaul di sana sini tetapi lupa ada koneksi penting dengan Tuhan yang harus senantiasa kita jaga. Jiwa kita tidak terlihat, oleh karenanya sangat mudah untuk terlupakan ketika kita kehilangan fokus kepada apa yang sebenarnya penting. Tantangan aku di beberapa waktu ini adalah bagaimana memakai belt of truth di dalam keseharian aku dalam segi menjaga kesehatan hati, jiwa, dan pikiranku. Ikat pinggang di masa kerajaan dahulu bukanlah berfungsi untuk mengencangkan celana kendor seperti sekarang. Melainkan merupakan tempat untuk menyimpan pedang dan senjata ketika sedang berperang. Pedang itu adalah Firman Tuhan dan ikat pinggangnya adalah keadaan jiwaku yang berada di dalam. Hati, jiwa, dan pikiranku harus disiapkan sedemikian rupa untuk dapat menjadi seperti tanah subur di mana kebenaran Firman dapat tertanam, bertumbuh, dan bekerja di dalam hidupku.

Sebelum kita membahas lebih lanjut mengenai beautiful soul, mari kita melihat terlebih dahulu sebenarnya apa sich jiwa itu? Banyak agama menggunakan kata tubuh, jiwa, dan roh namun apakah pandangan Alkitab mengenai ketiganya? Ketika Tuhan menciptakan manusia, ia menciptakan kita serupa dengan gambar-Nya. Berfirmanlah Allah: “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita …” (Kejadian 1:26) Lalu dikatakan di Kejadian 2:7: “And the LORD God formed man of the dust of the ground, and breathed into his nostrils the breath of life; and man became a living soul.” Ketika Tuhan menghembuskan nafasnya kepada manusia, kata “breath” yang dipakai dalam bahasa Ibrani adalah “neshamah” yang dapat berarti spirit (roh). Setelah Tuhan menghembuskan roh ke dalam manusia, manusia tersebut menjadi a living soul yang dalam bahasa Ibrani menggunakan kata “nephesh” yang berarti jiwa, makhluk hidup, hasrat, pikiran, keinginan, memiliki emosi. Jadi bisa kita lihat bahwa ketika Tuhan menghembuskan roh-Nya ke dalam manusia, manusia menjadi hidup dan memiliki roh. Inilah yang membedakan manusia dari makhluk hidup lain seperti binatang. Roh menghubungkan manusia dengan pencipta-Nya yaitu Tuhan.  Sementara jiwa adalah keseluruhan dari keberadaan manusia. Jiwa adalah pusat kehendak, pikiran, emosi kita. Tubuh merupakan eksterior kita yang ‘menampung’ jiwa dan roh namun bukan yang terutama. Yang berada di dalam jauh lebih berharga daripada yang berada di luar. Menarik bukan?
Roh, jiwa, dan tubuh kita pada mulanya sempurna adanya sama seperti Tuhan sempurna. Ketika Adam dan Hawa berada di dalam Taman Eden mereka memiliki hubungan yang sempurna dengan Tuhan sehingga mereka menjadi pribadi yang utuh tidak kekurangan apa pun. Namun ketika manusia jatuh ke dalam dosa, manusia menjadi tidak sempurna lagi. Dosa memisahkan manusia dari Tuhan. Karena kehilangan hubungan yang sangat vital tersebut, kita mewarisi jiwa yang tidak utuh yang akan selalu memiliki kebutuhan yang hanya Tuhan bisa penuhi. Itulah mengapa terlepas dari seberapa baik kita menganggap diri kita sendiri, selalu ada standar lebih yang masih harus kita kejar … beautiful soul that we once had lost.


 Kita semua dapat memiliki a beautiful soul. Namun langkah pertama untuk memiliki jiwa yang indah itu justru adalah dengan kita harus menyadari bahwa keadaan jiwa kita sekarang tidak begitu indah. Paul menganggap dirinya paling berdosa di antara semua pendosa lainnya. “Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa, dan di antara mereka akulah yang paling berdosa.” (1 Timotius 1:15) Bila kita sudah menjadi orang Kristen terlalu lama atau bahkan pelayanan dengan jam terbang tinggi, kita dapat dengan mudah memiliki kecenderungan menganggap diri kita baik atau lebih baik dari orang lain. Ketika kita sudah menganggap diri kita baik, maka kita tidak lagi membuat ruang untuk bertumbuh. Kita pun dapat menjadi buta akan hal-hal yang sebenarnya Yesus masih ingin benahi dalam diri kita. Jadi, aku belajar bahwa mungkin Tuhan mengizinkan keburukan jiwaku keluar sedemikian rupa untuk membuat aku sadar bahwa ada hal-hal yang masih perlu aku izinkan Tuhan bekerja di dalamnya.

Satu-satunya yang sanggup memulihkan jiwa kita adalah Tuhan sendiri. Jadi langkah kedua untuk menuju beautiful soul itu adalah dengan kembali membangun keintiman dengan Tuhan Yesus. Daud mengerti betul prinsip ini. Di dalam Psalm 23:1-3 Daud menulis, “The LORD is my shepherd, I shall not be in want. He makes me lie down in green pastures, he leads me beside quite waters, he restores my soul” Daud memiliki keintiman yang luar biasa dengan Tuhan. Ia menulis, “Tuhan adalah gembalaku, tak akan kekurangan aku.” Sejak manusia berdosa, jiwa kita memiliki lubang besar di mana hanya Tuhan yang dapat memenuhi lubang tersebut. Bukan uang, kekayaan, kecantikan, kesuksesan lah yang mampu mengisi jiwa kita, melainkan hanya Tuhan. Sadar akan hal ini, aku berhenti sejenak dari aktivitas-aktivitasku dan kembali merenungkan what really matters in life. Lebih fokus lagi membaca Firman dan HP ku selalu silent sekarang hahaha.. It feels good and peaceful. Kita membutuhkan waktu yang benar-benar tenang melepaskan diri dari segala distraction. Just be with God and enjoy his presence. Then he restores our souls… Kabar baik bahwa Tuhan sanggup memulihkan jiwa kita ini berlaku hanya bagi yang percaya kepada Yesus sebagai Juru Selamat pribadinya. Karena hanya melalui Yesus lah hubungan manusia dengan Tuhan dapat pulih.

Langkah ketiga, kita dapat memiliki beautiful soul dengan mengizinkan Tuhan menjadi sumber kedamaian di dalam jiwa kita. Kita pasti senang dengan orang yang pembawaannya anteng, kalem, penuh senyum damai. Kalau melihat orang-orang seperti itu rasanya hidup mereka seperti tidak memiliki masalah. Ya bukan? Biasanya masalah menjadi alasan utama kita ketika hati kita tidak lagi damai sejahtera. Keadaan luar seringkali kita izinkan untuk mengendalikan keadaan jiwa kita. Namun yang ingin Yesus lakukan dalam diri kita adalah menjadi damai di dalam diri kita di saat badai kehidupan datang. Yesus tinggal di dalam kita untuk meredakan badai tersebut dan jiwa kita dapat tetap tenang dan percaya kepada-Nya meski keadaan luar belum berubah. “Peace I leave with you; my peace I give you. I do not give you as the world gives. Do not let your hearts be troubled and do not be afraid.” (John 14:27) Ada sebuah kutipan yang selalu aku ingat di saat dunia memberikan seribu alasan untuk kehilangan damai sejahtera di jiwaku: “My greatest comfort is knowing that God is in control.” Sampai detik aku menulis artikel ini, keadaan luarku belum berubah banyak. Namun aku terbuka terhadap apa yang sedang Tuhan sedang kerjakan di dalam jiwaku. Ia sedang memperindah jiwaku sampai benar-benar menjadi seperti cermin yang merefleksikan kebaikan dan kemuliaan-Nya.


Langkah keempat, kita dapat memiliki beautiful soul ketika kita mengakui luka-luka yang pernah terjadi di dalam diri kita dan mau dijamah Tuhan di area tersebut. Past sins and wounds can truly hinder our intimacy with God. Banyak dari kita tanpa kita sadari membawa bagasi luka lama dan dari luar nampak keadaan kita baik-baik saja. A beautiful soul is a healthy soul. Luka yang pernah membuat kita sakit harus kita identifikasi dan diserahkan kepada Tuhan agar tidak membawa dampak di hubungan kita dengan Tuhan dan sesama nantinya. Sungguh hal yang sulit untuk berhadapan dengan luka-luka lama. Mengingatnya saja tidak mengenakkan. Kita dapat dengan mudah seolah-olah sudah menguburnya,  namun luka itu tetap ada di dalam jiwa kita. A hurted soul tends to hurt others. That is why we need to be healed. Aku sendiri mengakui keberadaan luka-luka tersebut di jiwaku. Aku datang dari latar belakang broken family. Aku sering berkata ke diriku sendiri, “A harmonious family is a luxury I can’t afford at least for now.” Aku sering merasa ditinggalkan, sendiri, dan keadaan rumah ‘dingin’. Jadi yang senantiasa aku lakukan adalah terus menggantikan setiap kebutuhanku akan keluarga di dalam Tuhan. Tentu perasaan-perasaan dan luka tersebut masih sering berbisik di jiwaku. Namun aku percaya pelan namun pasti, suatu saat bisikan-bisikan tersebut akan hilang dan digantikan dengan kebenaran. Ingat kembali, ikat pinggang untuk meletakkan kebenaran adalah keadaan jiwa kita. Bila keadaan jiwa kita tidak sehat, kebenaran akan sulit melekat di hidup kita.

A beautiful soul is a soul that loves much. Langkah terakhir untuk memiliki jiwa yang indah adalah dengan berlatih mempraktikkan kasih dalam hidup kita. Bunda Teresa adalah teladan yang sangat terkenal dalam kasih di dalam hidupnya. Ketika melihat fotonya, kita tidak lagi peduli keriput-keriputnya. Yang kita lihat adalah sebuah jiwa yang indah. Tentunya kita ingin dikenang sebagai orang yang berjiwa indah bukan? Perintah utama Yesus adalah “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri…” (Matius 22:37-39) Love is a very beautiful word, but a hard thing to do for sinners like us. Kita harus berhenti memperlakukan love sebagai kata benda (noun) melainkan sebagai kata kerja (verb). Tidaklah mudah mengasihi seperti yang Yesus ajarkan. Aku sendiri menganggap memang ini perintah Yesus yang paling sulit. Akhirnya aku memulai mempraktikkan kasih ini sebagai sebuah disiplin daripada sebagai perasaan. Karena bila kita menunggu perasaan mengasihi datang, bisa-bisa kita tidak pernah dapat perasaannya. Love is an action regardless of what we feel. Jadi lebih baik meski perasaan masih dongkol, aku memutuskan untuk melakukan hal-hal yang membuat orang tersebut dikasihi daripada ngendog nunggu perasaan mengasihi muncul. Pelan-pelan, ketika action sudah kita lakukan, perasaan dapat menyusul (aku sudah mencobanya dan berhasil!) Bagaimana dengan teman-teman? Maukah untuk bertumbuh juga dalam hal mengasihi?

Yuk, kita bertumbuh menjadi wanita yang memiliki beautiful soul. Jangan biarkan keadaan luar, luka lama, penolakan kita akan adanya masalah dalam jiwa kita menjadi penghambat pertumbuhan kita. Let’s get back to God. He will restore our soul just as he intends it to be.

A beautiful soul is priceless,
but it’s a luxury I believe we all can afford in Jesus Christ.

Christ has paid for it!

-by Leticia Seviraneta

Photos by Jennifer Phelps Photography

No comments:

Post a Comment