November 14, 2017

Everyone Communicates, Few Connect


Everyone Communicates, Few Connect
A book by John C. Maxwell

-Reviewed by Leticia Seviraneta-

Kita mungkin seringkali tidak menyadari bahwa keefektifan kita dalam melayani sesama sangat ditentukan oleh seberapa pandai kita membangun hubungan dengan mereka. Hal ini tidak hanya berlaku di dalam dunia pelayanan, melainkan dalam pekerjaan, hubungan keluarga, dan segala aspek kehidupan kita. Banyak orang mungkin berkomunikasi satu dengan yang lain, namun ternyata hanya sedikit yang benar-benar mampu membangun hubungan yang berarti dengan sesamanya. Apa yang dimaksud dengan membangun hubungan di sini? Kita dapat dikatakan berhasil membangun hubungan yang berarti bila kita dapat mengalihkan fokus dari diri kita sendiri kepada orang lain. Orang lain bernilai di mata kita. It’s no longer about me, it’s about others. Kehidupan mereka menjadi menarik untuk kita ketahui. Jadi segala percakapan yang kita lakukan dengan orang tersebut dapat benar-benar menjadi jembatan sekaligus gerbang menuju keintiman emosional yang lebih dalam lagi.

Ketika kita mampu mengalihkan fokus kepada sesama, kita akan secara otomatis berada di posisi memberi, bukan mengambil. Kita menjadi pemberi kasih dan bukan pengambil kasih. Hal ini akan memperbesar pengaruh kita dalam kehidupan orang-orang yang menerima dari kita. Mereka akan senang berada bersama kita karena kita menghargai keberadaan mereka.
Selain ego, kesibukan kita seringkali juga menjadi tembok penghalang kita untuk membangun hubungan dengan sesama. We are busy, busy, and busy until we forget to slow down. Kita tidak dapat menaruh perhatian kepada sesama apalagi kepada orang asing bila kita sendiri hidupnya bergerak terlalu cepat seperti dengungan lebah. Jadi, kita harus dapat menyesuaikan langkah kita dengan orang lain. Memang hal ini dapat sangat melelahkan (terutama bagi teman-teman yang terbiasa melakukan segala sesuatu dengan cepat). Namun hal ini sangat perlu karena tanpa kita slow down, kita tidak dapat membangun hubungan yang berarti. Lalu dijelaskan juga ada lagi penghalang lainnya dalam connect dengan sesama seperti kesombongan dan ketidakpedulian kita.
Nah, untuk dapat membangun hubungan berarti sedemikian rupa, itu merupakan sebuah skill yang harus dilatih. Communication is a skill, therefore it can be trained :) Tidak ada dari kita yang lahir ke dunia dalam kondisi sifat selfless yang tidak egois. Kebalikannya, justru kecenderungan kita adalah untuk bertindak mementingkan diri sendiri. Namun sekarang ketika kita aware kalau membangun hubungan berarti dengan sesama merupakan hal yang perlu untuk dilakukan, kita membuka pintu untuk menjadikan skill tersebut milik kita (wow!). Di dalam buku ini, John C. Maxwell membahas sangat detail step-by-step bagaimana kita dapat belajar membangun hubungan one-on-one, in group, dan bahkan di depan audience yang banyak. Bukankah menarik ketika kehidupan kita menarik orang-orang untuk mengenal Tuhan pada akhirnya melalui kepedulian yang kita berikan?

People like people who like them. Mari kita belajar untuk menghargai keberadaan orang-orang di sekitar kita, belajar peduli akan kehidupan mereka, belajar memahami sudut pandang orang lain. Bila kita melatih skill ini secara konsisten, percayalah hubungan kita dengan sesama akan jauh lebih baik, kita akan semakin efektif dalam menjadi perwakilan Yesus di dunia ini!

Cheers!

No comments:

Post a Comment