November 14, 2017

The Beautiful Soul

If any one of you wants to be my follower, you must turn from your selfish ways, take up your cross, and follow me. If you try to hang on to your life, you will lose it. But if you give up your life for my sake, you will safe it. And what do you benefit if you gain the whole world but lose your own soul? Is anything worth more than your soul?(Matthew 16:24-26, NLT)


Kita sebagai wanita biasanya senang tampil cantik dengan versi diri kita sendiri. Kita pun juga pasti sudah tidak asing dengan kata-kata bahwa cantik itu inside-out (cantik luar dalam). Nah kalau memakai definisi cantik itu di dalam, aku merasa belakangan ini jiwaku sedang tidak dalam kondisi cantik. I feel there is something wrong with my soul these days. Pikiranku lebih banyak yang negatif daripada positifnya, kadang bisa emosian, dsb. Jadi, aku memutuskan untuk mengecek kesehatan jiwaku (seperti ibu dokter ya hehe..) Kesimpulan yang kutemukan adalah aku gagal menjaga jiwaku dan banyak distracted dengan hal-hal lain selain mempertahankan relationship aku secara pribadi dengan Tuhan sendiri. Ketika aku tidak menjaga koneksi yang baik dengan Tuhan, jiwaku bermasalah.
Apakah teman-teman pernah mengalami hal yang serupa? Kita dapat dengan mudah terlena dengan aktivitas kita, mengejar mimpi, bergaul di sana sini tetapi lupa ada koneksi penting dengan Tuhan yang harus senantiasa kita jaga. Jiwa kita tidak terlihat, oleh karenanya sangat mudah untuk terlupakan ketika kita kehilangan fokus kepada apa yang sebenarnya penting. Tantangan aku di beberapa waktu ini adalah bagaimana memakai belt of truth di dalam keseharian aku dalam segi menjaga kesehatan hati, jiwa, dan pikiranku. Ikat pinggang di masa kerajaan dahulu bukanlah berfungsi untuk mengencangkan celana kendor seperti sekarang. Melainkan merupakan tempat untuk menyimpan pedang dan senjata ketika sedang berperang. Pedang itu adalah Firman Tuhan dan ikat pinggangnya adalah keadaan jiwaku yang berada di dalam. Hati, jiwa, dan pikiranku harus disiapkan sedemikian rupa untuk dapat menjadi seperti tanah subur di mana kebenaran Firman dapat tertanam, bertumbuh, dan bekerja di dalam hidupku.

Sebelum kita membahas lebih lanjut mengenai beautiful soul, mari kita melihat terlebih dahulu sebenarnya apa sich jiwa itu? Banyak agama menggunakan kata tubuh, jiwa, dan roh namun apakah pandangan Alkitab mengenai ketiganya? Ketika Tuhan menciptakan manusia, ia menciptakan kita serupa dengan gambar-Nya. Berfirmanlah Allah: “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita …” (Kejadian 1:26) Lalu dikatakan di Kejadian 2:7: “And the LORD God formed man of the dust of the ground, and breathed into his nostrils the breath of life; and man became a living soul.” Ketika Tuhan menghembuskan nafasnya kepada manusia, kata “breath” yang dipakai dalam bahasa Ibrani adalah “neshamah” yang dapat berarti spirit (roh). Setelah Tuhan menghembuskan roh ke dalam manusia, manusia tersebut menjadi a living soul yang dalam bahasa Ibrani menggunakan kata “nephesh” yang berarti jiwa, makhluk hidup, hasrat, pikiran, keinginan, memiliki emosi. Jadi bisa kita lihat bahwa ketika Tuhan menghembuskan roh-Nya ke dalam manusia, manusia menjadi hidup dan memiliki roh. Inilah yang membedakan manusia dari makhluk hidup lain seperti binatang. Roh menghubungkan manusia dengan pencipta-Nya yaitu Tuhan.  Sementara jiwa adalah keseluruhan dari keberadaan manusia. Jiwa adalah pusat kehendak, pikiran, emosi kita. Tubuh merupakan eksterior kita yang ‘menampung’ jiwa dan roh namun bukan yang terutama. Yang berada di dalam jauh lebih berharga daripada yang berada di luar. Menarik bukan?
Roh, jiwa, dan tubuh kita pada mulanya sempurna adanya sama seperti Tuhan sempurna. Ketika Adam dan Hawa berada di dalam Taman Eden mereka memiliki hubungan yang sempurna dengan Tuhan sehingga mereka menjadi pribadi yang utuh tidak kekurangan apa pun. Namun ketika manusia jatuh ke dalam dosa, manusia menjadi tidak sempurna lagi. Dosa memisahkan manusia dari Tuhan. Karena kehilangan hubungan yang sangat vital tersebut, kita mewarisi jiwa yang tidak utuh yang akan selalu memiliki kebutuhan yang hanya Tuhan bisa penuhi. Itulah mengapa terlepas dari seberapa baik kita menganggap diri kita sendiri, selalu ada standar lebih yang masih harus kita kejar … beautiful soul that we once had lost.


 Kita semua dapat memiliki a beautiful soul. Namun langkah pertama untuk memiliki jiwa yang indah itu justru adalah dengan kita harus menyadari bahwa keadaan jiwa kita sekarang tidak begitu indah. Paul menganggap dirinya paling berdosa di antara semua pendosa lainnya. “Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa, dan di antara mereka akulah yang paling berdosa.” (1 Timotius 1:15) Bila kita sudah menjadi orang Kristen terlalu lama atau bahkan pelayanan dengan jam terbang tinggi, kita dapat dengan mudah memiliki kecenderungan menganggap diri kita baik atau lebih baik dari orang lain. Ketika kita sudah menganggap diri kita baik, maka kita tidak lagi membuat ruang untuk bertumbuh. Kita pun dapat menjadi buta akan hal-hal yang sebenarnya Yesus masih ingin benahi dalam diri kita. Jadi, aku belajar bahwa mungkin Tuhan mengizinkan keburukan jiwaku keluar sedemikian rupa untuk membuat aku sadar bahwa ada hal-hal yang masih perlu aku izinkan Tuhan bekerja di dalamnya.

Satu-satunya yang sanggup memulihkan jiwa kita adalah Tuhan sendiri. Jadi langkah kedua untuk menuju beautiful soul itu adalah dengan kembali membangun keintiman dengan Tuhan Yesus. Daud mengerti betul prinsip ini. Di dalam Psalm 23:1-3 Daud menulis, “The LORD is my shepherd, I shall not be in want. He makes me lie down in green pastures, he leads me beside quite waters, he restores my soul” Daud memiliki keintiman yang luar biasa dengan Tuhan. Ia menulis, “Tuhan adalah gembalaku, tak akan kekurangan aku.” Sejak manusia berdosa, jiwa kita memiliki lubang besar di mana hanya Tuhan yang dapat memenuhi lubang tersebut. Bukan uang, kekayaan, kecantikan, kesuksesan lah yang mampu mengisi jiwa kita, melainkan hanya Tuhan. Sadar akan hal ini, aku berhenti sejenak dari aktivitas-aktivitasku dan kembali merenungkan what really matters in life. Lebih fokus lagi membaca Firman dan HP ku selalu silent sekarang hahaha.. It feels good and peaceful. Kita membutuhkan waktu yang benar-benar tenang melepaskan diri dari segala distraction. Just be with God and enjoy his presence. Then he restores our souls… Kabar baik bahwa Tuhan sanggup memulihkan jiwa kita ini berlaku hanya bagi yang percaya kepada Yesus sebagai Juru Selamat pribadinya. Karena hanya melalui Yesus lah hubungan manusia dengan Tuhan dapat pulih.

Langkah ketiga, kita dapat memiliki beautiful soul dengan mengizinkan Tuhan menjadi sumber kedamaian di dalam jiwa kita. Kita pasti senang dengan orang yang pembawaannya anteng, kalem, penuh senyum damai. Kalau melihat orang-orang seperti itu rasanya hidup mereka seperti tidak memiliki masalah. Ya bukan? Biasanya masalah menjadi alasan utama kita ketika hati kita tidak lagi damai sejahtera. Keadaan luar seringkali kita izinkan untuk mengendalikan keadaan jiwa kita. Namun yang ingin Yesus lakukan dalam diri kita adalah menjadi damai di dalam diri kita di saat badai kehidupan datang. Yesus tinggal di dalam kita untuk meredakan badai tersebut dan jiwa kita dapat tetap tenang dan percaya kepada-Nya meski keadaan luar belum berubah. “Peace I leave with you; my peace I give you. I do not give you as the world gives. Do not let your hearts be troubled and do not be afraid.” (John 14:27) Ada sebuah kutipan yang selalu aku ingat di saat dunia memberikan seribu alasan untuk kehilangan damai sejahtera di jiwaku: “My greatest comfort is knowing that God is in control.” Sampai detik aku menulis artikel ini, keadaan luarku belum berubah banyak. Namun aku terbuka terhadap apa yang sedang Tuhan sedang kerjakan di dalam jiwaku. Ia sedang memperindah jiwaku sampai benar-benar menjadi seperti cermin yang merefleksikan kebaikan dan kemuliaan-Nya.


Langkah keempat, kita dapat memiliki beautiful soul ketika kita mengakui luka-luka yang pernah terjadi di dalam diri kita dan mau dijamah Tuhan di area tersebut. Past sins and wounds can truly hinder our intimacy with God. Banyak dari kita tanpa kita sadari membawa bagasi luka lama dan dari luar nampak keadaan kita baik-baik saja. A beautiful soul is a healthy soul. Luka yang pernah membuat kita sakit harus kita identifikasi dan diserahkan kepada Tuhan agar tidak membawa dampak di hubungan kita dengan Tuhan dan sesama nantinya. Sungguh hal yang sulit untuk berhadapan dengan luka-luka lama. Mengingatnya saja tidak mengenakkan. Kita dapat dengan mudah seolah-olah sudah menguburnya,  namun luka itu tetap ada di dalam jiwa kita. A hurted soul tends to hurt others. That is why we need to be healed. Aku sendiri mengakui keberadaan luka-luka tersebut di jiwaku. Aku datang dari latar belakang broken family. Aku sering berkata ke diriku sendiri, “A harmonious family is a luxury I can’t afford at least for now.” Aku sering merasa ditinggalkan, sendiri, dan keadaan rumah ‘dingin’. Jadi yang senantiasa aku lakukan adalah terus menggantikan setiap kebutuhanku akan keluarga di dalam Tuhan. Tentu perasaan-perasaan dan luka tersebut masih sering berbisik di jiwaku. Namun aku percaya pelan namun pasti, suatu saat bisikan-bisikan tersebut akan hilang dan digantikan dengan kebenaran. Ingat kembali, ikat pinggang untuk meletakkan kebenaran adalah keadaan jiwa kita. Bila keadaan jiwa kita tidak sehat, kebenaran akan sulit melekat di hidup kita.

A beautiful soul is a soul that loves much. Langkah terakhir untuk memiliki jiwa yang indah adalah dengan berlatih mempraktikkan kasih dalam hidup kita. Bunda Teresa adalah teladan yang sangat terkenal dalam kasih di dalam hidupnya. Ketika melihat fotonya, kita tidak lagi peduli keriput-keriputnya. Yang kita lihat adalah sebuah jiwa yang indah. Tentunya kita ingin dikenang sebagai orang yang berjiwa indah bukan? Perintah utama Yesus adalah “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri…” (Matius 22:37-39) Love is a very beautiful word, but a hard thing to do for sinners like us. Kita harus berhenti memperlakukan love sebagai kata benda (noun) melainkan sebagai kata kerja (verb). Tidaklah mudah mengasihi seperti yang Yesus ajarkan. Aku sendiri menganggap memang ini perintah Yesus yang paling sulit. Akhirnya aku memulai mempraktikkan kasih ini sebagai sebuah disiplin daripada sebagai perasaan. Karena bila kita menunggu perasaan mengasihi datang, bisa-bisa kita tidak pernah dapat perasaannya. Love is an action regardless of what we feel. Jadi lebih baik meski perasaan masih dongkol, aku memutuskan untuk melakukan hal-hal yang membuat orang tersebut dikasihi daripada ngendog nunggu perasaan mengasihi muncul. Pelan-pelan, ketika action sudah kita lakukan, perasaan dapat menyusul (aku sudah mencobanya dan berhasil!) Bagaimana dengan teman-teman? Maukah untuk bertumbuh juga dalam hal mengasihi?

Yuk, kita bertumbuh menjadi wanita yang memiliki beautiful soul. Jangan biarkan keadaan luar, luka lama, penolakan kita akan adanya masalah dalam jiwa kita menjadi penghambat pertumbuhan kita. Let’s get back to God. He will restore our soul just as he intends it to be.

A beautiful soul is priceless,
but it’s a luxury I believe we all can afford in Jesus Christ.

Christ has paid for it!

-by Leticia Seviraneta

Photos by Jennifer Phelps Photography

Lebih Dari Sekedar Baik



Bila kita ditanya, “Kriteria orang seperti apa yang kamu inginkan menjadi pasangan kamu?” Kita biasa dengan spontan menjawab, “Orang yang BAIK.” Bagi yang sudah percaya maupun belum percaya Yesus, jawaban tersebut cukup sering dilontarkan. Kita sebagai manusia secara natural tertarik dengan kebaikan. Tidak akan ada yang menjawab ingin berteman atau memiliki pasangan hidup yang jahat bukan? Nah, namun pengertian baik yang disebutkan itu seperti apa? Apakah baik itu saja cukup? Jawabannya adalah ya dan tidak, tergantung dari definisi kebaikan yang kita pahami. Banyak yang mengartikan kebaikan sebagai keinginan berbuat baik atau sudah menjadi tindakan baik kepada orang lain. Definisi ini tentu tidak salah. Namun kebaikan belum menjadi kebaikan sampai itu menjadi sebuah tindakan nyata. Demikian juga halnya dengan subjek yang menerima kebaikan itu sendiri. Bila seseorang hanya baik kepada yang baik kepadanya, maka kebaikan belumlah menjadi kebaikan yang sesungguhnya.
Kebaikan merupakan salah satu aspek dalam Buah Roh (Galatia 5:22) yang dalam bahasa Yunani menggunakan kata ‘chrestotes’ yang bermakna ‘an act of kindness or tolerance toward others; selfless act; doing good things on behalf of others without expecting anything in return.” Jadi kebaikan memiliki unsur tindakan nyata mementingkan orang lain meskipun kita tidak mendapat balasan apa-apa serta seringkali membuat kita harus berkorban. Wew.. ini merupakan level kebaikan yang benar-benar berbeda dengan konsep kebaikan yang selama ini kita bayangkan bukan?
Tuhan kita adalah Tuhan yang baik. Ia adalah contoh paling pertama dan utama dari kebaikan itu sendiri. Seluruh Alkitab menceritakan dan memberikan kesaksian betapa baiknya Tuhan.
“Dan jikalah kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalah kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian. Dan jikalah kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” –Luk 6:32-36 [ITB]


Tuhan baik kepada semua orang termasuk yang tidak layak menerima kebaikannya. Di sini kita dapat melihat bahwa kebaikan sesungguhnya tidak memandang buluh subjek penerima kebaikan itu. Layak maupun tidak layak, orangnya baik kepada kita maupun tidak baik kepada kita, orangnya tahu berterima kasih maupun tidak tahu berterima kasih, semuanya tidak memberikan kita alasan untuk tidak berbuat baik kepada mereka. Tentu hal ini tidak mudah. Oleh karena kebaikan adalah buah Roh, maka sumber kebaikan selevel ini tidak dapat dihasilkan dari kekuatan manusia semata, melainkan dari hubungan intim dengan Tuhan. Yang perlu kita lakukan adalah memandang kebaikan Tuhan sedemikian rupa sehingga pundi emosi kita begitu penuh untuk menyalurkannya kepada orang lain disertai dengan kemauan untuk taat melakukan kebaikan itu.
Kebaikan adalah kasih dalam bentuk tindakan nyata. Kita dapat sekedar baik tanpa mengasihi, namun kita tidak dapat mengasihi tanpa berbuat baik. Kita dapat saja memberikan uang receh kepada pengemis tanpa mengasihi pengemis tersebut. Namun kita tidak bisa mengklaim bahwa kita mengasihi pasangan kita tanpa berbuat baik kepadanya. Apakah teman-teman dapat melihat kaitan erat antara kasih dan kebaikan itu? Kasih menjadi landasan berpijak di mana seluruh karakteristik buah Roh lain berpijak.

Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.” –Kol 3:12-14 [ITB]

Tuhan menginginkan kita untuk mengasihi sesama. Tuhan menginginkan kita untuk berbuat baik kepada mereka. Ini merupakan kehendak Tuhan yang dinyatakan berulang-ulang di Alkitab. Tuhan tidak hanya sekedar berkata Ia mengasihi kita, ia juga melakukan tindakan nyata berdasarkan kasih-Nya. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh 3:16) Sebagai bentuk nyata dari kasihnya, Tuhan mengorbankan sesuatu yang sangat berharga bagi kita, yakni Yesus Kristus untuk mati di atas kayu salib. Di sini kita melihat sisi lebih mendalam lagi dari kebaikan. Kebaikan mengandung unsur pengorbanan.

Kebaikan selalu merupakan tindakan baik untuk orang lain yang mengorbankan kepentingan sendiri (selfless act). Hal ini bukan berarti kita menjadi berjiwa martir dan hidup dengan tidak pernah memikirkan kebutuhan sendiri. Keseimbangan adalah kuncinya. Tuhan memberikan perintah, “Kasihilah sesamamu manusia, seperti engkau mengasihi dirimu sendiri.” (Mat 22:39b) Kita tidak dapat memberi apa yang tidak kita punyai. Bila kita tidak memperhatikan kebutuhan pokok kita sebelum memberi kepada orang lain, tentulah hal ini tidak sehat. Penting untuk dicatat bahwa kasihi diri sendiri dalam hal kebutuhan-kebutuhan yang esensial, bukan sekedar keinginan mata kita. Contoh kebaikan nyata yang membuat kita berkorban adalah dengan memberikan waktu untuk mendengarkan sesama dalam masalah ketika kita sedang sibuk, memberikan uang bagi yang sangat memiliki keperluan mendesak sementara kita hanya ingin menggunakan uang tersebut untuk keinginan sekunder atau tersier, memberikan pengampunan meski kita masih merasa sakit hati, memberikan pujian di saat teman berhasil meski kita agak merasa iri, dsb. Ada begitu banyak kesempatan di dalam kehidupan kita sehari-hari untuk berbuat baik. Janganlah membayangkan berbuat baik harus berbentuk sesuatu yang besar seperti mendonasikan uang dalam jumlah yang banyak hingga kita menunggu waktu yang tepat di mana nominal banyak tersebut terkumpul. Hal ini tentu tidak salah, namun jangan sampai kita terlewatkan banyak kesempatan berbuat baik yang nampaknya kecil hanya karena konsep berbuat baik di benak kita terbatas.
Saya secara pribadi sangat mengagumi karakter Ribka (Kej 24:1-67). Di Kejadian 24 diceritakan bagaimana hamba Abraham berdoa meminta tanda dari Tuhan agar ia dapat menemukan wanita yang tepat bagi isteri Ishak. Ia berdoa bila ketika ia meminta air untuk minum dari anak gadis yang hendak menimba air agar ia diberikan minum serta unta-untanya pun akan diberi minum, maka itulah isteri pilihan Tuhan yang tepat bagi Ishak. Patut dicatat bahwa hamba ini tidak berdoa akan hal-hal yang terlihat di permukaan seperti paras yang super cantik, tubuh yang tinggi semampai, mata yang indah, dsb. Hamba ini mendoakan sebuah kualitas yang jauh lebih berharga daripada itu semua. Sebuah karakter yang dimanifestasikan dalam tindakan nyata, kebaikan. Memberikan air minum kepada seorang hamba yang haus saja sudah dapat dikatakan baik. Karena itu berarti anak gadis ini tidak memandang rendah si hamba dan tidak sombong. Tetapi memberi minum juga unta-unta? Tunggu dulu. Bila kita berhenti dan membayangkan sejenak, coba kita cari tahu, berapa banyak kah seekor unta minum air?  Fakta membuktikan bahwa seekor unta yang sedang haus dapat minum 30-40 galon air sekali waktu. Lalu ada berapa ekor kah unta yang dibawa si hamba Abraham tersebut? Dicatat di Kej 24:10 bahwa ia membawa sepuluh ekor unta. Hal ini berarti Ribka menimba 300-400 galon air untuk memberi minum unta-untanya. Lalu coba bayangkan apakah sekali menimba air, Ribka dapat memperoleh 1 galon? Tentu tidak. Karena pada zaman tersebut wadah menampung air untuk menimba mungkin hanya sebesar ember kita untuk mengepel saat ini. Dan perkataan Ribka ketika menawarkan bantuannya begitu murah hati: “Baiklah untuk unta-untamu juga kutimba air, sampai semuanya puas minum.” (Kej 24:19) Kebaikan yang diberikan oleh Ribka bukanlah kebaikan yang ngepas-ngepas seadanya saja, melainkan kebaikan yang maksimal. Kita memiliki Tuhan yang tidak tanggung-tanggung dalam menunjukkan kebaikan kepada kita, jadi berilah yang maksimal kepada sesama kita. Tuhan disenangkan dengan orang-orang yang baik hati sedemikian rupa karena manusia menjadi melihat diri-Nya melalui kita.




Ingatlah setiap hari merupakan kesempatan baru untuk menunjukkan kebaikan Tuhan melalui tindakan kita. Kebaikan Tuhan adalah sumber yang memudahkan kita menghasilkan buah kebaikan di kehidupan kita. Kecaplah dan lihatlah kebaikan Tuhan, hitunglah berkat-Nya, penuhi hati kita dengan rasa syukur, maka tindakan kebaikan akan menjadi bagian dalam keseharian kita secara alami. Sebuah standard kebaikan yang tidak pandang buluh siapa penerimanya, yang membuat kita berkorban, dan yang merefleksikan kasih Tuhan kepada setiap jiwa yang kita temui. Mari kita menjadi pribadi yang lebih dari sekedar baik, namun yang menjadi saluran kebaikan Tuhan yang sesungguhnya.

Blessings,
Leticia Seviraneta

Photos by Jennifer Phelps Photography

Kindness Changes Everything

“And become useful and helpful and kind to one another, tenderhearted (compassionate, understanding, loving-hearted), forgiving one another [readily and freely], as God in Christ forgave you.” –Ephesians 4:32 [AMP]



Suatu ketika Yesus memasuki kota Yerikho dan hendak melintasi kota itu. Di kota inilah ada Zakheus, kepala para penagih pajak yang kaya. Zakheus ingin melihat Yesus, namun karena ia pendek ia tidak dapat melihat-Nya di tengah keramaian. Jadi ia memanjat pohon ara di pinggir jalan yang akan dilewati oleh Yesus. Ketika Yesus melewati jalan tersebut, ia melihat ke atas dan memanggil Zakheus. Yesus berkata, “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Zakheus segera turun dan menyambut Yesus dengan sukacita. Namun kerumunan orang di sana menjadi bersungut-sungut dan berkomentar: “Ia menumpang di rumah orang berdosa.” Namun terlepas dari gerutuan orang-orang tersebut, Zakheus berdiri di hadapan Yesus dan berkata, “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Lalu kata Yesus, Pada hari ini engkau dan seluruh keluargamu diselamatkan oleh Allah dan diberikan hidup yang baru, sebab engkau juga keturunan Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” (Luk 19:1-10, paraphrased)
Bagi orang Yahudi di zaman itu, profesi sebagai penagih pajak adalah pendosa. Karena penagih pajak, yang notabene sebangsa orang Yahudi juga, bekerja untuk pemerintah Roma dan menagih pajak rekan sebangsanya. Biasanya yang ditagih jauh lebih besar dari yang harusnya dibayarkan, dari sana lah para penagih pajak memperoleh kekayaannya. Zakheus merupakan kepala dari para penagih pajak pada masa itu. Jadi kita dapat bayangkan ia merupakan yang paling dibenci rakyat karena posisinya. Ia menjadi terkucilkan. Belum lagi dengan fisiknya yang pendek dibanding kebanyakan orang, ia pasti juga menjadi cemoohan warga sekitar. Namun sangat menarik Tuhan Yesus (yang Maha Tahu) menyadari keberadaan Zakheus di atas pohon. Ia pun segera mengatakan bahwa Yesus HARUS menginap di rumahnya. Ini menunjukkan Yesus tidak menganggap Zakheus sebagai orang yang harus ia hindari melainkan tanda Yesus menerima Zakheus apa adanya. Yesus menunjukkan kebaikan di saat Zakheus tidak layak menerimanya.

Bagian yang indah berikutnya adalah respon Zakheus yang menyambut Yesus dengan gembira dan ia menunjukkan respon atas kebaikan Tuhan dengan hendak memberikan separuh hartanya dan mengembalikan empat kali lipat bila ia menagih pajak secara tidak benar selama ini. Ini merupakan sebuah pemberian yang sangat murah hati dan menunjukkan ia lebih menghargai Yesus di atas harta-hartanya. Bandingkan kisah ini dengan kisah orang kaya yang justru enggan melepas hartanya untuk mengikut Yesus (Mat 19:21-22) Hidup Zakheus 180o berubah karena satu sentuhan kebaikan Yesus. Yesus pun menyambut respon Zakheus dengan hadiah yang paling berharga, Zakheus dan seisi keluarganya diselamatkan.

Kebaikan mengubah segalanya. Kebaikan, terutama bila diberikan kepada yang tidak layak menerimanya, menjadi seperti tamparan kasih untuk kembali ke jalan yang benar. Tentu tidak semua orang yang menerima kebaikan kita akan meresponi sebaik Zakheus. Akan tetap ada orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan menganggap sepi kebaikan kita. Namun fokus dari kebaikan sesungguhnya bukanlah untuk mendapatkan balasan, melainkan sebagai cerminan akan kebaikan yang telah kita terima sendiri dari Tuhan. Kita menjadi kepanjangan tangan Tuhan untuk memberikan kebaikan-Nya kepada sesama kita. Tidak ada yang membuat kita semakin mirip dengan Yesus selain ketika kita mengasihi dan baik kepada sesama.


Berbaik hatilah. Karena setiap orang yang kita temui mungkin sedang mengalami pergumulan berat yang tak terbayangkan di benak kita. Berbaik hatilah. Karena kebaikan mengubah segalanya. Kebaikan dapat mengubah musuh menjadi teman. Kebaikan dapat merajut kembali hubungan yang sempat terputus. Kebaikan dapat mengukir senyuman di wajah orang asing. Kebaikan dapat mengubah dukacita seseorang menjadi sukacita. Berbaik hatilah. Karena Tuhan sudah terlebih dahulu baik kepada kita (Rom 5:8)

-by Leticia Seviraneta
Photos in courtesy of Jennifer Phelps Photography

Everyone Communicates, Few Connect


Everyone Communicates, Few Connect
A book by John C. Maxwell

-Reviewed by Leticia Seviraneta-

Kita mungkin seringkali tidak menyadari bahwa keefektifan kita dalam melayani sesama sangat ditentukan oleh seberapa pandai kita membangun hubungan dengan mereka. Hal ini tidak hanya berlaku di dalam dunia pelayanan, melainkan dalam pekerjaan, hubungan keluarga, dan segala aspek kehidupan kita. Banyak orang mungkin berkomunikasi satu dengan yang lain, namun ternyata hanya sedikit yang benar-benar mampu membangun hubungan yang berarti dengan sesamanya. Apa yang dimaksud dengan membangun hubungan di sini? Kita dapat dikatakan berhasil membangun hubungan yang berarti bila kita dapat mengalihkan fokus dari diri kita sendiri kepada orang lain. Orang lain bernilai di mata kita. It’s no longer about me, it’s about others. Kehidupan mereka menjadi menarik untuk kita ketahui. Jadi segala percakapan yang kita lakukan dengan orang tersebut dapat benar-benar menjadi jembatan sekaligus gerbang menuju keintiman emosional yang lebih dalam lagi.

Ketika kita mampu mengalihkan fokus kepada sesama, kita akan secara otomatis berada di posisi memberi, bukan mengambil. Kita menjadi pemberi kasih dan bukan pengambil kasih. Hal ini akan memperbesar pengaruh kita dalam kehidupan orang-orang yang menerima dari kita. Mereka akan senang berada bersama kita karena kita menghargai keberadaan mereka.
Selain ego, kesibukan kita seringkali juga menjadi tembok penghalang kita untuk membangun hubungan dengan sesama. We are busy, busy, and busy until we forget to slow down. Kita tidak dapat menaruh perhatian kepada sesama apalagi kepada orang asing bila kita sendiri hidupnya bergerak terlalu cepat seperti dengungan lebah. Jadi, kita harus dapat menyesuaikan langkah kita dengan orang lain. Memang hal ini dapat sangat melelahkan (terutama bagi teman-teman yang terbiasa melakukan segala sesuatu dengan cepat). Namun hal ini sangat perlu karena tanpa kita slow down, kita tidak dapat membangun hubungan yang berarti. Lalu dijelaskan juga ada lagi penghalang lainnya dalam connect dengan sesama seperti kesombongan dan ketidakpedulian kita.
Nah, untuk dapat membangun hubungan berarti sedemikian rupa, itu merupakan sebuah skill yang harus dilatih. Communication is a skill, therefore it can be trained :) Tidak ada dari kita yang lahir ke dunia dalam kondisi sifat selfless yang tidak egois. Kebalikannya, justru kecenderungan kita adalah untuk bertindak mementingkan diri sendiri. Namun sekarang ketika kita aware kalau membangun hubungan berarti dengan sesama merupakan hal yang perlu untuk dilakukan, kita membuka pintu untuk menjadikan skill tersebut milik kita (wow!). Di dalam buku ini, John C. Maxwell membahas sangat detail step-by-step bagaimana kita dapat belajar membangun hubungan one-on-one, in group, dan bahkan di depan audience yang banyak. Bukankah menarik ketika kehidupan kita menarik orang-orang untuk mengenal Tuhan pada akhirnya melalui kepedulian yang kita berikan?

People like people who like them. Mari kita belajar untuk menghargai keberadaan orang-orang di sekitar kita, belajar peduli akan kehidupan mereka, belajar memahami sudut pandang orang lain. Bila kita melatih skill ini secara konsisten, percayalah hubungan kita dengan sesama akan jauh lebih baik, kita akan semakin efektif dalam menjadi perwakilan Yesus di dunia ini!

Cheers!