September 18, 2017

How to be Kind


-By Leticia Seviraneta-

Kebaikan merupakan sebuah tindakan nyata yang baik dan dapat dirasakan oleh orang lain. Kebaikan secara mutlak membutuhkan subjek penerima. Kebaikan dirasakan melalui bagaimana cara kita memperlakukan sesama manusia. Apakah kita menghargai mereka? Apakah kita memandang mereka dengan hormat? Apakah kita mengucapkan kata-kata yang baik kepada sesama? Mungkin sebagian kita merasa ‘jleb’ karena banyak yang tersentil ternyata kita selama ini belum sebaik standar yang Tuhan inginkan. Hey, it’s okay! Dengan menyadarinya sekarang, kita memiliki ruang untuk bertumbuh dan berkembang lebih baik lagi. Yuk kita gali lebih dalam lagi bagaimana caranya untuk menjadi baik.

1. Andalkan Tuhan sebagai sumber dan role model kebaikan

Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak akan berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.” (Yoh 15:7)


Pernahkah teman-teman melihat sebuah ranting yang berkeringat susah payah untuk menghasilkan buah? Hal ini terdengar konyol bukan? Sebuah ranting berbuah dengan sendirinya secara alami selama ia terhubung dengan baik dengan batang pohon, akar-akar, serta tanah yang subur. Selama ia terhubung dengan sumbernya tersebut, ranting tersebut secara pasti dan berkelanjutan akan menerima nutrisi yang dibutuhkan untuk berbuah. Demikian juga halnya dengan kita. Kita perlu untuk selalu terhubung dengan Yesus melalui hubungan yang intim, solid, dan teratur. Kita perlu berdiam dalam kekaguman akan kebaikan dan karya-karya-Nya di bumi ini untuk mendapat asupan nutrisi bagi roh dan jiwa kita. Selama kita terhubung, kita akan peka mendengar suara-Nya. Ia akan menunjukkan bagaimana kita harus bersikap kepada sesama. Lalu yang perlu kita lakukan adalah menaati arahan Roh Kudus tersebut. Apakah ia meminta kita untuk menolong orang yang tidak kita kenal yang sedang kesulitan di depan mata? Lakukanlah. Apakah ia meminta kita untuk tidak tersinggung dan melepas pengampunan pada orang yang berkata kasar kepada kita? Lakukanlah. Bila kita dapati diri kita sedang berlaku tidak baik kepada sesama, cobalah cek dan tanya diri kita kembali, “Bagaimana kah hubungan ku dengan Yesus belakangan ini?” Bila kita sadari bahwa hubungan kita sudah mulai kendor, kita malas berdoa dan membaca Fiman-Nya, segeralah bangkit dan berhubungan kembali dengan-Nya.

2. Latihlah kebiasaan untuk berkata-kata yang baik dan membangun saja

“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.” (Efesus 4:29)



Sadar atau tidak, kata-kata seseorang menunjukkan keadaan hati orang tersebut yang sesungguhnya. Tidak ada istilah, “Ah dia kata-katanya memang pedes, tetapi dia orangnya mah baik.” Karena Matius 5:18 menyatakan, “Apa yang keluar dari mulut berasal dari hati, dan itulah yang menajiskan orang.” Salomo menuliskan wanita bijak akan bertutur kata dengan lemah lembut dan penuh hikmat.

“She opens her mouth with wisdom, and the teaching of kindness is on her tongue.” –Proverbs 31:26 [ESV]

“When she speaks she has something worthwhile to say, and she always says it kindly.” –Proverbs 31:26 [MSG]

Melalui ayat ini, kita dapat menyaring kata-kata yang akan kita keluarkan sebelum membuka mulut kita. Apakah perkataanku ini baik? Apakah perkataanku ini membangun? Apakah perkataanku ini dapat menyakiti lawan bicaraku? Menarik bahwa di versi terjemahan The Message, dikatakan bila ia memiliki sesuatu yang layak untuk dibicarakan, ia selalu memperkatakannya dengan lembut. Jadi saringan tambahan sebelum kita mengucapkan sesuatu adalah apakah hal ini berharga untuk diucapkan? Bagaimana sebaiknya kita menyampaikannya? Bila perkataan yang akan kita ucapkan tidak lolos semua screening sebelumnya, lebih baik kita tidak membuka mulut kita. Terutama di saat kita sedang emosi dan marah, tidak akan ada hal baik yang dapat keluar dari mulut kita. Di saat-saat seperti itulah kita harus dapat menahan diri untuk tidak berbicara.

3. Bersikaplah ramah kepada orang yang dipandang lebih rendah

Dan Raja itu akan menjawab kepada mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Mat 25:40).

Ada sebuah ungkapan populer di dunia psikologi untuk menilai kepribadian seseorang. “Bila engkau ingin mengenal karakter sesungguhnya seseorang, lihatlah dari cara mereka memperlakukan pelayan restoran.” Ya, pelayan restoran merupakan subjek yang paling umum di sekitar kita yang mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari konsumennya. Banyak yang ketika memesan tidak memandang mata si pelayan, tidak mendengarkan ketika pelayan tersebut mengulang pesanan makanan kita, dan mengomeli pelayan ketika makanan lama disuguhkan terlebih lagi bila pesanan yang diantarkan salah. Hal-hal kecil dalam memperlakukan orang-orang yang baik secara jabatan maupun status sosial dipandang rendah merefleksikan betul apakah seseorang baik atau tidak. Yesus senantiasa mengajarkan bahwa setiap tindakan yang kita lakukan bagi orang-orang yang dipandang hina atau rendah bagi kebanyakan orang, kita lakukan bagi-Nya. Kita mungkin selama ini tidak sadar hal-hal yang terlihat kecil seperti ini berarti bagi-Nya. Oleh karenanya, mulailah belajar bersikap ramah dan menghargai keberadaan siapa pun tanpa merendahkan pekerjaan dan status sosialnya. Mulailah buat eye contact dan menyimak perkataan orang lain seperti itu penting bagi kita. Mulailah memperhatikan kebutuhan orang sekitar dan sedapat mungkin bantulah yang mengalami kesulitan.

4. Mudahlah mengampuni dan tidak menyimpan kesalahan orang lain

“Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”(Efesus 4:31-32).

Sebuah hubungan persahabatan, terlepas dari berapa lama pun terjalin, akan berakhir ketika ada salah satu atau pun kedua pihak yang mengingat-ingat kesalahan temannya dan memutuskan untuk tidak mengampuni. Ketika kita tidak mengampuni, kita sedang berlaku tidak baik kepada sesama kita (baik secara langsung maupun tidak). Keengganan untuk mengampuni akan menjadi tembok dalam hubungan tersebut yang menyulitkan kita untuk bersikap ramah dan berbuat baik kepada orang tersebut. Banyak dari orang Kristen bersikap tidak ramah karena berakar dari isu tidak mengampuni ini. Sikap tidak ramah tersebut akan terlampiaskan ke siapa saja meski orang lain tidak bersalah kepadanya. Jadi, cara untuk mempraktikkan kebaikan secara konstan adalah juga dengan memperbesar kapasitas hati kita untuk tidak mudah sakit hati, tidak mudah tersinggung, dan murah untuk melepaskan pengampunan. “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” (Efesus 4:26)

5. Kembangkanlah kebiasaan suka memberi

“A generous person will prosper; whoever refreshes others will be refreshed.” (Proverbs 11:25, NIV)



Kebaikan selalu berjalan berdampingan dengan tindakan memberi. Memberi waktu, perhatian, kesabaran untuk mendengarkan, uang, memberi pengetahuan, dsb merupakan manifestasi dari kebaikan. Kita secara natural tidak terbiasa untuk memberi, karena manusia secara daging merasa lebih nyaman menerima daripada memberi. Memberi terkadang membutuhkan harga yang harus dibayar dan pengorbanan dari pihak si pemberi. Untuk dapat melatih kebiasaan memberi kita harus menetapkan bahwa berkat Tuhan cukup bagi kita dan tujuan kita diberkati adalah untuk memberkati orang lain. Mulailah dari memberikan sesuatu yang kecil, baru perlahan-lahan memberikan sesuatu yang semakin berharga bagi kita. Memberi bukan hanya sekedar tindakan kebaikan yang nyata, namun juga merupakan tindakan yang mengungkapan rasa syukur kita atas pemberian Tuhan dan tanda rasa percaya bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kita kekurangan.


“Tidak ada satu pun tindakan kebaikan yang sia-sia” -Unknown

Bertumbuh - Ps Jeffrey Rachmat

Sukses tidak menjamin seseorang bertumbuh. Banyak orang yang sukses namun sangat tidak dewasa.

Pertumbuhan berbicara mengenai sebuah proses dibandingkan dengan sebuah event. Pertumbuhan berbicara soal kedewasaan.

Kita dapat membeli semua CD khotbah lalu mengunci diri di kamar berhari-hari mendengarkan khotbah namun tidak menjadikan kita spiritual giant. Karena pertumbuhan adalah sebuah proses dan tidak dapat dipercepat.

Tips untuk bertumbuh:

1. Perhatikan apa yang kita makan

Buku apa yang kita baca, khotbah siapa yang kita dengar, film apa yang kita nonton.
Ya, makanan menentukan pertumbuhan kita. Ada begitu banyak khotbah yang baik namun disampaikan dengan spirit yang tidak baik (seolah-olah semuanya salah dan dia yang paling benar.)

1 Cor 3:1-2 -- Paulus yang luar biasa hebatnya namun memilih berbicara dengan memakai gaya bahasa orang awam (gaya bahasa duniawi) daripada bahasa rohani. Terkadang kita terlalu rohani sehingga ketika kita berbicara orang tidak mengerti. Bila kita masih bayi rohani, makanlah susu. Bila kita sudah lebih dewasa rohani, mulailah makan makanan keras. Kita harus tahu level pertumbuhan kita. Jangan karena orang lain membaca buku yang berat, kita jadi ikut-ikutan sementara kita tidak mengerti akhirnya setelah membacanya. Kita harus tahu menempatkan posisi kita dan jangan berkompetisi dengan orang yang kerohaniannya berbeda dengan kita. Bila kita membutuhkan hal-hal yang mendasar, maka belajarlah yang mendasar.

1 Cor 3:6 -- Baik yang menanam dan menyiram bisa berbeda orangnya namun Tuhanlah yang memberikan pertumbuhan.

DATE menjadi sesuatu yang luar biasa karena apa yang sudah ditanam di kebaktian hari Minggu, Date Leader dapat menyiraminya. Yang menanam dan menyiram sama pentingnya dan akan menerima upah yang sama. Lalu Tuhanlah yang memberikan pertumbuhan. Jadi bila kita mau bertumbuh, bergabunglah ke dalam DATE yang ada sehingga ada yang menyirami supaya kita dapat bertumbuh. Tidak dapat bertumbuh dalam kesendirian.

2.  Keterbukaan

Mark 4:26-28
Segala sesuatu yang benih itu perlukan untuk masa depannya ada di dalam benih itu sendiri. Sama halnya dengan benih, segala sesuatu yang diperlukan kita untuk menjadi siapa kita di masa depan ada di dalam diri kita sendiri. Benih talenta yang ada di dalam diri kita harus tertanam agar mengeluarkan potensial yang maksimal.

Ketika tertanam di dalam komunitas, dibutuhkan keterbukaan. Bila seseorang crack open (terbuka) ia membuka jalan pertumbuhan.

Keterbukaan adalah awal dari suatu pertumbuhan.

Biasanya orang tidak terbuka karena malu dengan bagian hidup tertentunya. Gimana kalau orang tahu kalau sebenarnya aku punya hutang kartu kredit, gimana kalau orang tahu kalau punya dosa besar…Orang lain mungkin sebenarnya dapat membantu kita, namun karena kita tidak terbuka orang jadi tidak tahu masalah kita sehingga akhirnya tidak ada bantuan yang diberikan.

Tentu kita tidak boleh terbuka dengan sembarangan orang. Prinsip keterbukaan yang harus ada -> RASA AMAN. Ketika kita mau ganti baju, tentu kita mencari tempat yang tertutup karena kita mau mengekspos tubuh kita. Carilah orang yang membuat kita merasa aman, spiritualitasnya lebih dewasa dibanding kita, dan memiliki track record yang baik dalam menjaga kerahasiaan cerita untuk kita ceritakan masalah kita.

3. Meninggalkan

1 Cor 13:11 --  ketika kita menjadi dewasa, kita meninggalkan sifat kekanak-kanakkan.

Bila kita mau bertumbuh, akan ada yang harus kita tinggalkan.

Bapa kita “Abba” adalah Sumber. Kita memang kepada Bapa harus percaya seperti anak kecil. Anak kecil percaya sekali kepada bapaknya. Ia percaya bapaknya dapat beli apa saja. Percaya memang diperintahkan untuk seperti anak kecil. Namun sifat kanak-kanak harus ditinggalkan.

Ketika menikah perintah Tuhan tinggalkan ayah dan ibu untuk bersatu dengan istri. Bila orang tua ikut campur dalam pernikahan akan selalu menimbulkan konflik.

Efesus 4:22-24 -- kita harus meninggalkan manusia lama dan kenakan manusia baru

Pertumbuhan selalu menuntut suatu perubahan.

Biasanya orang malas untuk berubah karena ia merasa nyaman. Musuh pertumbuhan adalah rasa nyaman.

Sudah enak punya gedung ini untuk apa cari gedung yang lebih besar?

Ketika kita mau lulus sekolah, kita mungkin sedih karena teman-teman kita akan kuliah terpencar-pencar di berbagai universitas atau berbagai negara. Namun tidak akan ada dari diri kita yang berpikir kalau gitu kita tidak lulus saja ya. Pasti kita akan belajar untuk meninggalkan.

Salah satu yang harus kita tinggalkan adalah kita perlu melepaskan pengampunan. Kita perlu meninggalkan hal-hal yang menyakitkan. Orang yang tidak mau mengampuni hidupnya terhenti (stuck) di satu chapter hidupnya sehingga meski ia bertambah tua, hidupnya terhenti.

4. Memberi dan berbagi

Ams 11:24-25 -- orang menyebar harta namun bertambah kaya, orang menghemat secara luar biasa namun selalu berkekurangan

Siapa banyak memberi berkat akan diberikan kelimpahan. Semua orang mau kelimpahan. Kita tidak mungkin bertumbuh bila semuanya mau kita genggam sendiri.

Saat kita memberi, kita bertumbuh.

Luk 6:38

Salah satu contoh memberi: melayani dan mengajar.

Bila kita mengajar, kita justru malah mendapatkan sesuatu yang baru. Bila kita mau cepat bertumbuh, banyaklah melayani. Ketika kita melayani, kita belajar disiplin (harus datang lebih pagi), rendah hati (tidak memaksakan kehendak sendiri namun memberikan kepuasan bagi yang dilayani), penguasaan diri (bila diomeli harus menahan diri).

Bila kita melayani untuk mendapatkan sesuatu, maka kita akan dikecewakan orang lain. Tips untuk tidak mengalami kekecewaan: ketika melayani, expect nothing. Justru orang yang tidak pernah menantikan sesuatu, diberikan sesuatu.

5. Bersyukur

Bila mau bertumbuh, belajarlah bersyukur.

Roma 5:3-5 Kesengsaraan menimbulan ketekunan, tahan uji, pengharapan.

Bila kita mengalami pergumulan dan beban berat, sebenarnya kita berada di dalam proses pertumbuhan.

Bila tidak percaya, coba mampir ke gym. Di sana kita akan lihat banyak orang pikul beban. Mengapa mereka pikul beban? Lalu tambah – tambah bebannya ketika sudah terlalu ringan. Mengapa mereka mau? Karena mereka mengerti pain has a purpose. Mereka angkat beban karena mereka tahu otot mereka sedang bertumbuh, badan menjadi lebih sehat, etc

Ketika kita bersyukur kita berkata kepada beban itu, “Aku dapat mengatasimu.”

Kita tidak tahu mengapa kita memikul beban seberat ini, namun bila kita ingat kalau Tuhan pun tahu satu helai rambut jatuh, maka kita dapat percaya bahwa tidak satu hal pun yang diizinkan Tuhan ada tanpa ada tujuan.

Oleh karena itu dikatakan kesengsaraan menimbulkan ketekunan, tahan ji, pengharapan.

Yakobus 1:2-4 --; Setelah ketekunan menyelesaikan bagiannya kita menjadi dewasa dan lengkap, tidak kekurangan apapun juga.

Mari kita menjadi orang yang love progress, mencintai pertumbuhan, dan mengingat bahwa pain has a purpose.


Ini semua hal-hal yang dapat kita langsung lakukan : perhatikan apa yang kita makan, cari orang yang dewasa dan terpercaya untuk terbuka,  tinggalkan (salah satu bentuk meninggalkan mungkin kita harus mengampuni, tinggalkan sifat kekanak-kanakan), memberi (stretch yourself to give), dan bersyukur.

Forgiveness - Ps Jeffrey Rachmat

Forgive terdiri dari kata  “For” + “Give”. Forgiveness untuk diberikan kepada seseorang, bukan untuk ditahan di dalam diri kita. Bila kita menahannya di dalam diri kita, maka kita akan mengundang kebusukan ke dalam kehidupan kita. Selama kita tidak menyingkirkan akar unforgiveness, maka kebusukan akan selalu ada karena kita menyimpan sesuatu yang busuk.

Iblis seringkali disebut Beelzebul. Beelzebul -> Tuhan dari kotoran. Bila kita tidak mengampuni, sama seperti kita mengundang Beelzebul datang dan pesta di dalam kehidupan kita.

Bagian dari doa Bapa Kami, “Ampunilah kesalahan kami sama seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami. Dan jangan masukkan kami ke dalam pencobaan tetapi bebaskanlah kami dari pada yang jahat.” Bila kita tidak mengampuni maka Tuhan juga tidak mengampuni kita dan kita menjadi terbelenggu dengan yang jahat.

Menyimpan kesalahan orang sama dengan kita menaruh beban di pundak kita.

Forgiveness sama dengan seperti memulai awal yang baru. Sama halnya dengan buku yang terdiri dari beberapa chapter, ketika kita tidak mengampuni sama seperti kita stuck di salah satu chapter. Chapter yang membuat kita stuck itu mungkin di bagian yang horror, yang menyakitkan hati, yang membuat kita menangis. Orang yang mengampuni seperti terhenti di chapter tersebut tanpa pernah tahu chapter yang berikut isinya apa. Jadi, kehidupan orang yang tidak mengampuni sama seperti orang yang berhenti namun secara fisik ia bertambah tua.

Contoh: Bila seseorang mengalami patah hati karena mantan pasangan yang lama melakukan sesuatu yang salah dan sulit dimaafkan, ia memperlakukan pasangan barunya seolah-olah ia yang melakukan kesalahan pasangan lamanya. Secara kasat mata ia seperti sudah memulai hubungan baru atau mungkin menikah, namun kita seperti membawa beban lama yang akan mempengaruhi hubungan baru tersebut.

Lukas 17 à bila orang lain berbuat kesalahan tujuh kali, dan orang tersebut menyesal dan meminta maaf maka kita harus mengampuninya. Lalu murid-murid meresponinya dengan minta tambahan iman. Yesus menjelaskan sekiranya mereka memiliki iman sebesar biji sesawi saja, mereka dapat memindahkan pohon ara. Jadi untuk dapat mengampuni, tidak dibutuhkan iman seseorang.

Pengampunan tidak berhubungan dengan iman seseorang.
Pengampunan berhubungan dengan ketaatan seseorang.

Pengampunan bukan sekedar tanda dari ketaatan kita, melainkan tanda menghormati Tuhan.

Bila Tuhan meminta kita untuk mengampuni, just do it. Pada saat kita menolak untuk mengampuni, maka kita berada di dalam bahaya.

Pembalasan bukan berada di tangan manusia, pembalasan dan penghakiman berada di tangan Tuhan.

Mengapa mengampuni? Karena Tuhan telah lebih dahulu mengampuni kita.

Yesus adalah contoh sempurna dalam memberikan pertolongan. Yesus tidak menunggu orang meminta maaf kepada-Nya, ia melepaskan pengampunan lebih dahulu.

Mari kita menjadi generasi yang menunjukkan Yesus di dalam hidup kita. Bukan hanya sekedar cepat melepas pengampunan, namun juga cepat untuk menawarkan pengampunan. Bukan hanya sekedar menawarkan pengampunan, namun juga cepat meminta pengampunan.

Kata “I’m sorry” merupakan kata tersulit untuk kita ucapkan. Sulit mendidik anak saya mengajarkan untuk say sorry. Banyak orang sampai berusia tinggi sulit meminta maaf.

Ketika kejatuhan pertama Adam dan Hawa, Adam bersembunyi ketika ia tahu ia telah berbuat salah. Andaikan saja Adam pada waktu itu berkata, “I am sorry,” mungkin kita tidak memiliki Alkitab setebal sekarang. Ceritanya akan sangat berbeda.

Bayangkan ada begitu banyak pencobaan dan malapetaka yang tidak seharusnya kita masuki bila kita mampu berkata, “I am sorry.”

Berkata “I am sorry” bukanlah tanda kita lemah, melainkan tanda kita kuat sehingga kita mampu mengatakannya.

Berkata “I am sorry” juga seperti melepas beban kita. Beban tersebut berpindah ke orang lain karena mereka yang memiliki tugas untuk mengampuni kita.

Mengapa sulit sekali meminta maaf? Karena kita berhadapan dengan ego kita sendiri. Namun yang dapat saya katakan adalah it is worth it.
Setiap membaca Alkitab, ingatlah bawah ini semua gara-gara Adam tidak meminta ampun kepada Tuhan.

Kolose 3:12-15; kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kesabaran. Sabarlah seorang akan yang lain, ampuni seorang akan yang lain sama sepertu Tuhan telah mengampuni kita. Dan di atas semuanya itu kenakanlah KASIH sebagai pengikat yang menyempurnakan.

Kenakanlah ini semua, jangan kenakan beban.

Hanya orang yang pernah merasakan diampuni dapat mengampuni orang lain.

Bayangkan dalam sebuah hubungan pernikahan, pengampunan akan menjadi benih dari sebuah restorasi. Bila saya mengampuni seseorang,  maka pemulihan akan menjadi mungkin terjadi.

“Tapi saya tidak dapat melupakannya…” Yang kita perlu lakukan bukanlah melupakan, melainkan mengampuni.

Chapter-chapter sebelumnya akan tetap ada, namun hidup kita tidak stuck dan terhenti. Karena kita tahu setelah kita mengampuni, cerita kehidupan kita berlanjut.

Mengampuni bukan berarti melupakan. Tetapi kita tidak akan melupakan apa yang kita tidak ampuni.


Our lives are saved by the forgiveness we receive. But our quality of life will be determined by the quality of forgiveness that we let go.